Pemprov Sumut Tak Percaya Diri

Medan - Wakil Ketua DPRD Sumut, Chaidir Ritonga menyebutkan bahwa pada 2013 Sumut kehilangan 2.000 pajak dari kendaraan bermotor akibat kelemahan belum adanya revisi Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur peningkatan pajak kendaraan bermotor. Akibat hal tersebut tentu saja menyebabkan Sumut kehilangan sekitar Rp200 miliar yang jika dirataratakan pajak perkendaraan bermotor sekitar 10 juta per tahun per mobil. Selain itu juga beberapa target dari tahun 2013 justru tidak tercapai. Ini menunjukkan bahwa ekpektasi yang diharapkan tidak dibarengi oleh kemampuan kinerja.
“Sumut banyak sekali kehilangan sumber pemasukan dari pajak kendaraan bermotor selama ini. Perdanya belum disahkan sampai hari ini,” katanya.
Selanjutnya Chaidir menyebutkan bahwa penurunan APBD Sumut di 2014 tentu saja suatu tidak lazim. Dengan inflasi sebesar 10 persen saat ini saja tentu saja ini sudah tidak sehat dalam perencanaan postur APBD. Pemprovsu harus segera merespon berbagai persoalan terkait peningkatan pendapatan.
Untuk itu solusi yang paling memungkinkan adalah upaya menggenjot pendapatan dari pajak rokok yang berkisar Rp250 miliar pada 2014 dan kendaraan bermotor tentunya. Disamping tentu saja dengan memperhatikan kepemilikan saham di Inalum.
Chaidir mengaku bahwa dirinya memang tidak setuju mengenai penurunan APBD 2014. Ini menunjukkan bahwa Pemprovsu tidak percaya diri dan ini menjadi tidak lazim sebagai sebuah lembaga.
“Saya memang tidak setuju dengan menurunnya APBD 2014 ini. Ini menunjukkan bahwa Pemprovsu tidak percaya diri,” katanya.
Pemprovsu dirasa perlu fokus untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Harus ada tim yang fokus untuk menggali potensi Sumut. Ini merupakan sebuah kegagalan untuk Pemprovsu. “Ini merupakan kegagalan untuk Pemprovsu dan DPRD Sumut,” kata Chaidir.
Menurutnya perlu Pemprovsu harus memfokuskan pada pos belanja langsung. Tidak lagi pada pos belanja tidak langsung seperti P-APBD 2013 yang banyak menempatkan belanja pada belanja tidak langsung.
Sementara Sekretaris Eksekutif FITRA Sumut, Ruri menyampaikan bahwa pendapatan terhadap rencana APBD 2013 tentu saja menurun. Postur belanja untuk aparatur yang sebesar 60 persen saja menjadikan catatan kritis untuk Pemprovsu. Sementara untuk belanja langsung sendiri hanya tidak sampai dari 20 persen. Dan ini tentu program peningkatan kesejahteraan Pemkab/Pemkot se-Sumut tentu perlu diperhatikan.
Pemprovsu tidak cukup percaya diri didalam meningkatkan pendapatan. Bahkan kinerja dan pelayanan publik justru tidak kunjung baik. Ini tentu saja membutuhkan keterlibatan masyarakat didalam memberikan masukan dari  masyarakat didalam merencanakan penyusunan APBD ke depan.
Lanjutnya, kurangnya keaktifan Pemprovsu melibatkan masyarakat dalam membuat kebijakan, politik anggaran hanya sekadar pencitraan. Dan hal ini diamini oleh DPRD Sumut yang minim sosialisasi atau pelibatan masyarakat dalam memberi masukan kepada penyusunan anggaran dan segala kebijakan Pemprovsu utamanya yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Pemprovsu tidak bisa disalahkan sendirian karena DPRD Sumut ternyata juga mengamini segala perencanaan Pemprovsu,” kata Ruri.
(sumber : Sumutpos)
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com