Jakarta, Dalam diskusi "Parpol Islam: Solusi atau Masalah" di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat,
Rabu pekan lalu, Mashadi, deklarator Partai Keadilan (PK), embrio
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), meminta PKS membubarkan diri, meminta
maaf kepada publik, dan mengembalikan aset.
Saat jadi anggota DPR 1999-2004 dari PK, Mashadi dikenal sederhana.
Aktivis kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 12 November 1953, ini pernah
menjadi sekretaris pribadi Mohamad Roem, mantan Wakil Perdana Menteri
dan Wakil Ketua II Masyumi.
"Yang saya pelajari dari tokoh Masyumi adalah komitmen perjuangan dan
kesederhanaan," ujar Mashadi, 60 tahun, kepada sebuah media. Saat PK
berubah jadi PKS, Mashadi menolak jadi caleg karena memandang PKS
cenderung pragmatis secara politik.
Bersama tujuh tokoh dakwah, lima tahun silam, Mashadi pernah
mengingatkan langsung KH Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syuro PKS, agar
transparan mengelola dana partai.
Saat kini korupsi menjerat Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq, Mashadi kecewa berat. "Saya tidak terima," katanya kepada reporter
GATRA Hayati Nupus dan pewarta foto Karvarino dalam perbincangan di
rumahnya, Kelapa Dua, Depok, Senin malam lalu. Ia melihat kasus ini
merupakan buntut kepemimpinan PKS yang permisif. Serba-boleh. Berikut
petikannya:
Bagaimana Anda melihat kasus Luthfi?
Ini anomali yang tidak bisa dimengerti. Sebuah entitas politik yang
berasal dari kegiatan dakwah berubah karakter, perilaku politik, dan
visi-misinya. Sekarang bukan saja melakukan pragmatisme
politik, melainkan juga melakukan pelanggaran terhadap asas. Bukan
hanya melanggar hukum, melainkan juga pelanggaran doktrin gerakan.
Ketika awal membangun partai, kami memiliki komitmen memperbaiki
keadaan, menjadi antitesis kondisi sebelumnya. Kami ingin mengakhiri
Orde
Baru yang korup dan otoritarian. Pimpinan PKS saat ini berkhianat
terhadap cita-cita awal. Pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan. Akan
jadi beban sejarah umat Islam yang tidak pernah bisa dihapus. Nanti
anak-cucu kita membaca buku sejarah sebuah partai yang presidennya
terlibat korupsi.
Setujukah Anda pada hipotesis bahwa ini skenario lawan politik atau lebih akibat perilaku elite partai?
Ini bukan intervensi, bukan skenario atau konspirasi dari luar. Ini
murni dari internal elite partai. Sejak PK berubah menjadi PKS, 2004,
tampak perubahan perilaku politik elite PKS. Bukan hanya pragmatisme
politik, melainkan lebih menunjukkan sikap sangat permisif.
Serba-menggampangkan. Serba-boleh.
Tidak lagi menggunakan parameter syar'i atau prinsip Islam yang
menjadi dasar gerakan. Termasuk menjadi partai terbuka, ikut dalam
koalisi pemerintahan SBY. Prinsip dasar kami berpolitik kan amar makruf
nahi mungkar. Tapi, selama ikut dalam pemerintahan SBY, PKS lebih
menjadi stempel karet terhadap kekuasaan dengan imbalan jabatan dalam
kabinet.
Anda termasuk salah satu tokoh yang pernah memperingatkan Hilmi Aminuddin secara internal sejak dini?
Ya. Peringatan pada internal elite PKS itu sudah dengan berbagai
cara. Termasuk bertemu Ustad Hilmi. Maret 2008, kami bertujuh mendatangi
Ustad Hilmi di Bandung. Selain saya, ada Pak Didin Hafidhuddin, Ihsan Tanjung
dan istri, Tizar Zein, Daud Rasyid, dan Bu Aisyah Nurmi. Ada satu staf
kami minta meninggalkan ruangan, menjaga supaya Ustad Hilmi jangan
malu.
Kami menyampaikan pokok-pokok pikiran tentang adanya hal yang
menyimpang. Otokritik untuk memperbaiki kebijakan. Tapi Ustad Hilmi
tidak begitu suka pada kritik, nasihat, atau saran teman-teman. Tidak
mengapresiasi. Bahkan kami yang dalam posisi mengingatkan itu
disingkirkan dari partai.
Ada tujuh hal pokok yang kami ingatkan. Antara lain sikap kurang
hati-hati terhadap maal (harta). Tidak ada transparansi pengelolaan dana
partai. Tidak ada kejelasan antara uang umat dan uang pribadi. Kemudian
soal jabatan mutlak ketua majelis syuro. Dalam anggaran dasar, jabatan
ketua majelis syuro dibatasi dua periode. Tapi klausul itu dihapus.
Ustad Hilmi menjadi pemimpin partai seumur hidup.
Saya tahu betul seperti apa kehidupan Hilmi waktu pertama pindah ke
Jakarta dari Madinah tahun 1978. Ia ngontrak rumah di Gang Melati, Tanah
Abang. Kontrakannya hanya berlantai tanah. Sekarang rumahnya di
Lembang, Bandung Barat, sangat mewah.
Respons Ustad Hilmi bagaimana?
Diam saja. Tidak berkomentar apa-apa. Tapi auranya menampakkan tidak nyaman dengan kedatangan kami.
Banyak orang yang bilang, kasus sekarang akibat Luthfi yang salah gaul dengan Fathanah.
Itu pencetus saja. Faktor utama, karena ketidakhati-hatian. Hilmi
sebagai pimpinan tertinggi partai dan jamaah sangat longgar dan kurang
hati-hati. Bukan hanya kasus ini, saya kira nanti akan banyak kalau
dibuka KPK. Ada transaksi politik dalam pilkada dan sebagainya.
Pilkada di mana saja?
Banyak. Semuanyalah. DKI, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Utara.
Hampir pasti ada transaksi. Tapi itu tidak pernah secara transparan
dilaporkan ke partai. Hanya orang-orang terbatas yang tahu. Mereka juga
membuat pembukuan ganda. Ada yang sifatnya terbatas, hanya beberapa
orang yang tahu, ada yang bisa dilihat publik.
Diprediksi akan muncul tersangka baru dari elite PKS. Apa saran Anda untuk pembenahan?
Hanya ada dua pilihan. Pertama, orang-orang yang sekarang diperiksa
KPK, baik statusnya tersangka maupun saksi, sebaiknya secara elegan
mengundurkan diri. Hilmi sebagai ketua majelis syuro, Anis Matta sebagai
presiden partai, bendaharanya juga, Mahfuz Abdurrahman. Itu opsi paling
ringan. Tapi, menurut saya, partai ini sudah tidak bisa diselamatkan.
Pilihan paling baik, membubarkan diri dan kembali pada gerakan dakwah.
Satu dekade ini menunjukkan, justru orang-orang yang memimpin partai
tidak memiliki kematangan. Justru mereka menjadi sumber masalah. Bukan
pelanggaran ringan. Ini menyimpang dari doktrin dasar. Menjadi partai
terbuka dengan segala implikasinya, menjadi sangat pragmatis dan
melakukan tindakan yang sangat tidak bisa dimaafkan, terlibat korupsi.
Yang melakukan ini bukan anggota, melainkan ikon partai.
Solusinya?
Pilihan paling baik membubarkan diri, kembali pada gerakan dakwah,
sambil terus melakukan otokritik, muhasabah kesalahan selama 10 tahun,
supaya menjadi catatan sejarah untuk keturunan kita. Bukan hanya
berpikir untuk sekarang. Jadi, ada gerakan dakwah, sebuah partai Islam,
melakukan kesalahan, kemudian menyadari kesalahan itu, dan berani
membuat keputusan membubarkan diri.
Itu akan lebih baik dan memberikan pelajaran sangat berharga kepada
bangsa. Gerakan Ikwan di Mesir saja perlu waktu 100 tahun untuk seperti
sekarang ini. Itu terus berada di posisi tak pernah berkompromi pada
kekuasaan.
Suara Anda tampak berbeda dari arus umum politisi PKS.
Kami tidak main-main waktu menjatuhkan Soeharto. Saya juga ikut demo,
mengerahkan ribuan massa. Ditembaki tentara. Kami ingin melihat
kehidupan lebih baik, membentuk good government. Bersih dari KKN. Kami
merasakan akibat KKN selama pemerintahan Soeharto. Tapi, kok sekarang
justru kami terlibat di situ. Sekarang kami dikhianati orang-orang yang
berada di puncak, yang memimpin partai. Saya tidak bisa terima atas apa
yang terjadi sekarang!
Partai ini didirikan di Masjid Al-Azhar. Dari pendukung awal hanya
50.000 menjadi 7 juta. Sekarang mereka tidak berani mengambil pilihan.
Bersikap dengan pilihannya yang sombong, menuduh KPK melakukan
konspirasi. Ke internal, mereka membuat exit plan supaya tetap solid
dengan mengatakan bahwa ini upaya dari luar untuk pembusukan partai.
Tindakan elite partai sekarang ini melawan arus dan sangat tidak
rasional.
Bagaimana kondisi internal PKS saat ini?
Kader PKS itu kan
terdidik. Mereka direkrut sebagian besar dulu mahasiswa yang memiliki
sikap kritis, intelektualitas tinggi, terbiasa dengan kehidupan kampus
yang punya idealisme. Tiba-tiba dihadapkan pada situasi sekarang. Mereka
sangat confused. Sekarang mereka tidak lagi memiliki
kebanggaan, harga diri, dan martabat. Sekarang mereka sulit bicara
kepada publik. Apa yang mereka mau katakan dengan fakta yang ada
sekarang.
Tapi sebagian elite PKS tetap mempertahankan hegemoni mereka pada
kader supaya satu suara dengan mengatakan ini konspirasi. Upaya lawan
politik menjatuhkan PKS. Kan, tidak mungkin ini tiba-tiba terjadi.
Dengan Deptan (Kementerian Pertanian) saja sudah dua periode dipegang
PKS. Bisa dilihat sendiri, apa progress selama dua periode dipegang PKS, terhadap petani, sektor pertanian secara keseluruhan? Nothing!
(sumber : gatra.com / http://www.gatra.com/fokus-berita/31545-mashadi-pilihan-terbaik-bubarkan-saja-pks.html)






0 komentar:
Post a Comment